Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kembali menguat, menyusul afirmasi Trump mengenai Greenland dan ancaman tarif 10% pada delapan negara UE. Pasar memantau langkah Uni Eropa yang mengisyaratkan potensi respons terhadap tindakan proteksionis AS, termasuk kemungkinan tarif terhadap barang AS senilai milyaran dolar. Ketegangan ini berpotensi membentuk dinamika aliran modal dan ekspektasi pertumbuhan global dalam beberapa kuartal ke depan.
Parlemen Eropa juga mengatur langkahnya dengan rencana menangguhkan kesepakatan perdagangan yang sebelumnya disepakati pada Juli, sebuah sinyal eskalasi potensi konflik dagang. Sementara itu, UE menggulirkan opsi bea masuk terhadap barang-barang AS senilai sekitar $93 miliar, menambah keruwetan bagi prospek perdagangan lintas benua. Kondisi geopolitik seperti ini cenderung meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap aman, sekaligus menekan volatilitas nilai tukar yang saat ini masih tinggi.
Di tengah semua ini, Indeks Dolar (DXY) menguat pada pembukaan sesi Eropa sekitar 98,60, meski volatilitas tetap tinggi. Analisis teknikal menunjukkan bahwa arah jangka pendek dolar bisa bergantung pada apakah sentimen risiko makin membaik atau merosot akibat perkotaan kebijakan dan pernyataan pejabat. Secara umum, prospek dolar masih bergantung pada bagaimana konflik perdagangan ini berkembang dan bagaimana respons kebijakan para pembuat kebijakan utama dunia.
Data tenaga kerja AS baru-baru ini mendukung ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak segera melonggarkan kebijakan hingga ada bukti yang lebih jelas bahwa inflasi bergerak menuju target 2%. Pergerakan pasar tenaga kerja yang solid meningkatkan tekanan untuk mempertahankan sikap kebijakan yang lebih ketat atau berhati-hati, meskipun ada tekanan dari kekhawatiran perlambatan pertumbuhan global akibat eskalasi tarif. Kondisi ini membuat pasar menahan diri dari terlalu cepat menilai pelonggaran sebagai jalan keluar jangka pendek.
Pejabat The Fed menunjukkan urgensi pelonggaran kebijakan yang “lebih jelas” belum terlihat hingga inflasi menunjukkan komitmen menuju target. Banyak analis juga menempatkan fokus pada data inflasi inti dan dinamika upah sebagai indikator utama untuk langkah kebijakan berikutnya. Komentar ini menambah nuansa kebijakan moneter yang lebih berhati-hati di tengah gejolak perdagangan lintas benua.
Sejumlah analis institusional, termasuk Morgan Stanley, telah merevisi prospek kebijakan untuk 2026 dengan menilai satu potongan suku bunga pada Juni diikuti potongan lain pada September. Perubahan pandangan ini mencerminkan transisi ekspektasi pasar dari pemotongan dini menuju penyesuaian yang lebih bertahap, seiring bukti inflasi yang tetap terkendali dan data ekonomi yang beragam. Proyeksi tersebut menunjukkan dinamika kerangka kebijakan yang lebih beragam di berbagai belahan pasar global.
Untuk para investor, tekanan terhadap DXY yang berpotensi berlanjut dapat membuka peluang pada aset berisiko seperti saham maupun komoditas yang cenderung mendapatkan dukungan ketika dolar melemah. Namun, perubahan sentimen geopolitik tetap menjadi risiko utama yang perlu dipantau secara aktif. Diversifikasi portofolio menjadi kunci mengelola volatilitas di tengah ketidakpastian kebijakan dan perdagangan internasional.
Sebagai strategi trading yang direkomendasikan, posisi short pada DXY dengan open 98.60, target 96.20, dan stop loss di 100.20 menjaga rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5. Skema ini sejalan dengan analisis bahwa DXY berpotensi mengalami penurunan lebih lanjut jika sentimen risiko membaik meskipun volatilitas tetap tinggi. Pelaku pasar sebaiknya selalu memantau perkembangan pernyataan pejabat UE dan AS, serta rilis data makro berikutnya.
Di samping itu, para investor disarankan untuk mengikuti perkembangan negosiasi perdagangan dan kebijakan fiskal di kedua blok utama, karena momentum geopolitik dapat mengubah arah dolar secara tiba-tiba. Penyesuaian posisi secara berkala, manajemen risiko yang ketat, dan penggunaan level take-profit/stop-loss yang konsisten akan membantu menjaga eksposur portofolio selama periode ketidakpastian ini.