Data perdagangan provisional Januari 2026 menunjukkan ekspor Jepang mencapai ¥9.19 triliun, naik 16.8% year-on-year dari ¥7.87 triliun pada Januari 2025. Angka ini menandai kenaikan terbesar sejak November 2022. Pasar ekspor didorong oleh permintaan kuat dari kawasan Asia dan Eropa, sementara permintaan dari Amerika Serikat tertahan.
Ekspor ke Asia meningkat 25.8% y/y, dipicu oleh China (+32.0%) dan Taiwan (+35.3%). Ekspor ke Western Europe juga naik sekitar 25.5% y/y, sementara ekspor ke AS turun sekitar 5% y/y. Perbedaan ini menunjukkan pola permintaan regional yang beragam terhadap produk Jepang.
Analisis menunjukkan bahwa dinamika aliran perdagangan memiliki dampak terbatas terhadap pergerakan USD/JPY meskipun data ekspor lebih kuat. Kepala strategi makro BNY Mellon Markets, Bob Savage, mencatat yen bergerak relatif tenang dalam menanggapi data tersebut. Faktor-faktor lain seperti kebijakan moneter global dan arus modal tetap menjadi penentu utama bagi pergerakan pasangan mata uang ini.
Jepang berencana menanam hingga US$36 miliar pada proyek minyak, gas, dan mineral kritis di Amerika Serikat, sebagai bagian dari komitmen sebesar US$550 miliar di bawah perjanjian perdagangan antara kedua negara. Proyek ini menandai dorongan nyata untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan energi dan bahan mineral penting antara Jepang dan AS. Inisiatif ini juga mencerminkan langkah konkret pertama dalam realisasi komitmen besar tersebut.
Rencana tersebut akan melengkapi tranche pertama dari total komitmen dan memperkuat kapasitas produksi serta distribusi energi lintas benua. Upaya ini diharapkan memperluas ekspor minyak mentah dan mendorong produksi industri canggih di Amerika Serikat, sehingga mempererat hubungan ekonomi dua negara. Langkah ini juga dipandang sebagai pendorong bagi kerja sama teknologi serta akses ke sumber daya kritis.
Kebijakan ini mencerminkan bagaimana kerja sama ekonomi bilateral dapat mempengaruhi arus modal dan dinamika mata uang. Investor menilai investasi energi sebagai faktor penentu arah USDJPY dalam jangka menengah, mengingat potensi peningkatan aliran modal ke Amerika Serikat seiring perubahan persepsi risiko global.
Satu kelompok akuntansi Jepang mengusulkan pelonggaran aturan bagaimana lembaga asuransi jiwa mencatat kerugian kertas pada obligasi pemerintah. Perubahan tersebut memungkinkan obligasi yang dimiliki matching dengan polis jangka panjang dianggap sebagai held to maturity jika syarat terpenuhi. Langkah ini bertujuan menghindari impairment accounting dan menjaga stabilitas neraca asuransi.
Implikasinya dapat mempengaruhi persepsi risiko dan kualitas aset di pasar obligasi domestik, terutama jika kebijakan baru mengurangi tekanan akuntansi terhadap kerugian potensial. Efek praktisnya dapat memperbaiki likuiditas dan memperpanjang durasi instrument yang digunakan asuransi untuk memenuhi kewajiban.
Sementara itu, dinamika perdagangan global dan arah kebijakan moneter tetap menjadi faktor utama bagi pergerakan yen terhadap mata uang utama. Pasar juga menilai dampak investasi Jepang di AS terhadap arus modal dan volatilitas obligasi pemerintah dalam jangka menengah. Hal ini menambah kompleksitas analisis bagi pelaku pasar.