Di bawah liputan Cetro Trading Insight, EURJPY menunjukkan rebound setelah beberapa sesi pelemahan, didorong optimisme bahwa data GDP Zona Eropa untuk Q4 akan mendukung pemulihan regional. Pergerakan euro terlihat lebih kuat terhadap yen karena ekspektasi pasar terhadap angka GDP yang positif meningkatkan keyakinan investor. Namun, volatilitas tetap tinggi karena adanya faktor risiko eksternal yang bisa mengubah dinamika dalam beberapa jam perdagangan berikutnya.
Minggu ini, pasangan mata uang ini bergerak dari level terendah harian di sekitar 180.81 dan berupaya memulihkan diri meski tren mingguan menunjukkan kerugian signifikan. Analis mencatat bahwa pembelajaran besar bagi pelaku pasar berasal dari bagaimana respons pasar terhadap data GDP dan sinyal kebijakan terkait. Ketidakpastian fiskal Jepang juga turut mempengaruhi sentimen sebagai penopang jangka menengah.
Data ekonomi utama yang dinantikan adalah laju pertumbuhan GDP Zona Eropa Q4 yang diperkirakan tumbuh 0.3% QoQ dan 1.3% YoY, sebagaimana disebutkan para ekonom. Hasil angka ini akan memberi petunjuk tentang kekuatan pemulihan regional dan dampaknya terhadap aliran modal. Investor menimbang keseimbangan antara risiko mata uang tunggal terhadap dinamika utang publik dan kebijakan moneter di kawasan tersebut.
Pertumbuhan Jepang mendapat dorongan dari rencana fiskal yang diajukan PM Sanae Takaichi, yang memperlihatkan komitmen pada ekspansi fiskal untuk menstimulasi ekonomi tanpa membebani keuangan publik secara berlebih. Kebijakan ini dipandang bisa memperkuat siklus pertumbuhan sambil menjaga profil fiskal dalam kendali. Pasar menilai bahwa kebijakan tersebut bisa menambah dukungan bagi yen jika efek multiplier-nya terasa signifikan.
Menko Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa rencana pemotongan pajak konsumsi untuk pangan tidak menambah beban utang negara dan akan didanai melalui subsidi, langkah fiskal khusus, serta penerimaan non-pajak. Ketetapan tersebut diharap bisa menenangkan kekhawatiran pasar terkait pembiayaan jangka pendek. Komentar ini memperkuat narasi bahwa neraca fiskal Jepang akan lebih stabil dalam beberapa triwulan ke depan.
Anggota BoJ Naoki Tamura menyatakan meski ada potensi kenaikan suku bunga kebijakan, kondisi keuangan tetap akomodatif untuk menjaga jalur inflasi menuju target. Pasar mencermati arahan Bank Sentral dalam data periode berjalan untuk menilai langkah lebih lanjut. Ia menekankan kewaspadaan terhadap prospek harga di tengah tren Yen yang lemah dan volatilitas global yang meningkat.
Para trader disarankan menilai dinamika teknikal yang menandai volatilitas tinggi di kisaran sekitar level 181.9, dengan fokus pada bagaimana rilis data ekonomi besar dapat memicu pergerakan signifikan. Pergerakan harga cenderung responsif terhadap reaksi pasar terhadap data GDP dan komentar otoritas kebijakan. Pengawasan terhadap fluktuasi volatilitas menjadi kunci untuk mengelola risiko jangka pendek.
Karena konteksnya adalah data fundamental, sinyal perdagangan tidak bisa dipastikan pada saat ini. Ketidakpastian kebijakan fiskal Jepang dan langkah Bank of Japan mengurangi kepastian entry dan exit. Oleh karena itu, penilai risiko disarankan berhati-hati dan menilai skenario-skenario yang mungkin terjadi di sesi-sesi perdagangan berikutnya.
Rencana manajemen risiko sejalan dengan pedoman risk-reward minimal 1:1.5 bila peluang perdagangan muncul. Disarankan untuk menghindari eksposur berlebihan dan menyiapkan stop loss yang cukup rapat. Fokus pada strategi menunggu konfirmasi dari data ekonomi utama dapat membantu menjaga portofolio tetap seimbang.