Menurut analisis TD Securities, pasar tenaga kerja AS yang tetap stabil dan inflasi inti yang terkendali berpotensi menjaga Federal Reserve pada posisi hold dalam waktu dekat meskipun momentum pertumbuhan tetap kuat. Laju pekerjaan yang konsisten menjadi pilar utama bagi ekspektasi kebijakan moneter yang berhati-hati. Para analis menekankan bahwa dinamika pasar tenaga kerja menjadi kunci arah kebijakan bank sentral di bulan-bulan mendatang.
Selain itu, proyeksi mereka mengindikasikan pelonggaran total sebesar 75 basis poin (bps) oleh The Fed pada 2026, dengan sebagian besar pelepasan suku bunga terjadi pada paruh kedua tahun tersebut. Proyeksi ini sangat bergantung pada jalur inflasi yang kembali menuju target 2% tanpa tonjolan tekanan harga yang signifikan. Risiko utama tetap terkait bagaimana inflasi bergerak seiring waktu.
Analitik tersebut memperkirakan laporan pekerjaan Februari akan menunjukkan stabilisasi lebih lanjut di pasar tenaga kerja, dengan tingkat pengangguran sekitar 4,3%. Perkiraan CPI inti bulanan sekitar 0,3% menunjuk pada stabilisasi inflasi inti, sebagian didorong oleh dampak berkelanjutan dari tarif impor. Secara keseluruhan, narasi ini menekankan bahwa sinyal ekonomi utama masih menunjukkan keseimbangan yang cukup untuk mempertahankan kebijakan saat ini.
Inti dari pandangan ini adalah bahwa tenaga kerja yang relatif kuat serta dinamika inflasi inti yang membaik tetap memungkinkan Fed untuk menahan suku bunga untuk beberapa waktu. Ketidakpastian seputar laju inflasi menjadi faktor penentu apakah langkah pelonggaran akan terealisasi pada 2026. Komite kebijakan perlu menilai bagaimana tekanan harga bergerak seiring dengan perubahan kondisi pekerjaan.
Para analis memperkirakan bahwa pelonggaran sebesar 75 bps di 2026 akan lebih banyak terjadi pada paruh kedua tahun tersebut, tergantung pada jalur inflasi yang menuju target 2%. Skema ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter akan disesuaikan secara bertahap jika inflasi menunjukkan kemajuan yang konsisten menuju targetnya. Risiko eksternal seperti dinamika fiskal dan perdagangan turut menjadi bagian dari perkiraan ini.
Pandangan tersebut juga menyoroti bagaimana pelonggaran lebih lanjut bergantung pada pandangan inflasi yang konstruktif. Tracking awal untuk CPI Februari mendukung gagasan bahwa inflasi masih relatif tinggi karena transmisi tarif impor yang berkelanjutan, sehingga tekanan pada CPI inti tetap relevan. Secara keseluruhan, jalur kebijakan 2026 tetap bergantung pada bagaimana inflasi berkembang sepanjang tahun tersebut.
Tarif impor masih menjadi faktor utama yang menopang inflasi inti, sehingga ekspektasi CPI inti bulanan sekitar 0,3% di Februari menyorot kontribusi pada sisi barang inti. Efek transmisi tarif mendorong inflasi inti lebih lama dari yang diperkirakan banyak pihak, meskipun ada beberapa sinyal stabilisasi di bagian lain dari ekonomi.
Ketahanan pasar kerja dipadukan dengan tanda-tanda normalisasi inflasi inti memberi justifikasi bagi Fed untuk tetap berada di jalurnya secara relatif tidak berubah sambil menilai potensi pelonggaran 75 bps di 2026. Investor dan pelaku pasar diajak memperhatikan perubahan indikator inflasi jangka pendek yang dapat mempengaruhi kecepatan perubahan kebijakan moneter.
Tracking awal untuk laporan CPI Februari memperkuat pandangan inflasi yang masih meningkat sebagian karena dampak transfer tarif (tarif impor) yang berlanjut, dengan ekspektasi CPI inti sekitar 0,3% m/m. Sinyal ini, jika terwujud, mendukung skenario pelonggaran bertahap di 2026 sesuai proyeksi yang telah disusun oleh para analis.