GBP/USD menguat menuju level sekitar 1.3400 pada pembukaan sesi Asia. Pergerakan ini mencerminkan evaluasi pelaku pasar terhadap risiko geopolitik dan peluang teknikal. Di tengah libur Martin Luther King Jr., likuiditas cenderung tipis sehingga pergeseran harga lebih berhati-hati. Pasar mencoba menimbang kombinasi faktor fundamental dan dinamika teknikal yang membentuk arah jangka pendek.
Berita tarif AS terhadap mitra dagang Eropa menambah spektrum risiko bagi dolar. Reuters melaporkan rencana tarif impor sebesar 10% mulai 1 Februari terhadap barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Pasar menilai langkah tersebut bisa memperkuat tekanan bagi dolar secara umum, meski respons terhadap pasangan mata uang utama bervariasi antar sektor. Investor juga mempertimbangkan bagaimana kebijakan perdagangan akan memengaruhi arus modal jangka pendek.
Analis memperingatkan bahwa reaksi UE dan respons masing-masing negara anggota bisa membentuk bias jangka pendek untuk GBP. Duta besar UE kabarnya mencapai kesepakatan untuk meningkatkan upaya pencegahan penerapan tarif oleh AS, sementara Prancis mengusulkan langkah ekonomi yang responsif. Pasar menunggu rilis data pekerjaan Inggris dan indeks harga konsumen (IHK) yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan Bank of England.
Faktor utama yang mempengaruhi pasangan ini adalah dinamika tarif AS terhadap Eropa dan bagaimana kabar tersebut mempengaruhi persepsi risiko mata uang. Ketegangan perdagangan meningkatkan premi risiko dolar, tetapi GBP dapat terangkat jika sentimen risiko global menurun dan data ekonomi Inggris menunjukkan stabilitas. Secara teknis, pergerakan mendekati 1.3400 menandai level krusial yang dapat menentukan arah jangka pendek.
Investor menimbang data ketenagakerjaan Inggris dan angka IHK yang akan dirilis akhir pekan. Data tersebut bisa memicu revisi pandangan terhadap prospek kebijakan BoE, terutama terkait kemungkinan perubahan suku bunga. Jika angka lebih lemah dari ekspektasi, tekanan pada Cable bisa melemah terhadap USD dalam jangka pendek; sebaliknya, data kuat bisa mendukung potensi koreksi naik bagi Sterling.
Di sisi geopolitik, diplomat UE terus menilai respons terhadap strategi perdagangan AS. Upaya kooperatif bisa menenangkan arus modal menuju aset berisiko, sementara risiko kebijakan eksternal tetap hadir. Investor tetap fokus pada bagaimana data fundamental Inggris berinteraksi dengan dinamika dolar AS dan ekspektasi kebijakan moneter BoE, termasuk arahan suku bunga di masa depan.
Rilis data pekerjaan dan CPI Inggris menjadi ujung tombak arah GBP/USD dalam beberapa hari mendatang. Angka tenaga kerja yang lemah cenderung menekan Sterling dan memberi ruang bagi BoE untuk memilih jalur yang lebih dovish. Namun jika publikasi menunjukkan momentum positif, peluang untuk penguatan lebih lanjut terhadap dolar bisa terjadi karena ekspektasi kenaikan suku bunga BoE meningkat.
Dalam skenario data lebih lemah dari perkiraan, volatilitas di pasar bisa meningkat, dengan potensi GBP turun terhadap USD. BoE kemungkinan mempertahankan kebijakan saat ini atau menunda sinyal kenaikan suku bunga, tergantung pada dinamika inflasi dan pertumbuhan. Paket data lain seperti CPI juga akan memperkuat narasi pasar mengenai jalur kebijakan moneter Inggris.
Secara keseluruhan, dinamika perdagangan memperlihatkan bahwa faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan AS dan respons UE tetap menjadi sumber risiko. Investor disarankan memantau rilis data Inggris secara dekat dan menimbang dampaknya terhadap ekspektasi suku bunga BoE. Dengan demikian, arah jangka pendek GBP/USD akan sangat tergantung pada bagaimana data fundamental Inggris dan berita kebijakan global berinteraksi.