Harga Tembaga Diprediksi Menembus Puncak $13.000/t di Kuartal II, Didukung Pasokan Inelastis dan Permintaan Elektrifikasi

trading sekarang

Deutsche Bank Research menilai bahwa dinamika harga tembaga didorong oleh pasokan tambang yang relatif inelastis dan permintaan terkait electrifikasi. Laju produksi tambang besar cenderung tidak merespons secara cepat terhadap perubahan harga, sehingga ada tekanan kenaikan harga yang berkelanjutan saat permintaan tumbuh. Analisis ini menekankan bahwa belanja modal untuk proyek baru tetap tinggi, memperpanjang fase pasokan yang terbatas.

Kerangka dasar tersebut memperkuat narasi bahwa tembaga dapat mengalami tekanan harga lebih tinggi dalam jangka menengah karena sektor electrifikasi menuntut pasokan logam besar. Permintaan untuk kabel, motor, dan infrastruktur grid meningkat seiring transisi energi, sementara pasokan global tetap terbatas. Karena itu, strategi pengelolaan pasokan menjadi kunci bagi pergerakan harga di masa depan.

Di sisi penawaran, tantangan operasional di tambang besar dan biaya eksplorasi yang tinggi menjadi faktor penentu. Para analis memperkirakan kapasitas produksi baru akan memerlukan waktu untuk benar benar meningkatkan output sehingga lonjakan pasokan bisa tertahan. Dalam konteks ini, volatilitas pasar dapat meningkat ketika pasar mengevaluasi ulang ekspektasi produksi di kuartal-kuartal mendatang.

Laporan ini memproyeksikan puncak harga tembaga pada sekitar $13.000/t di kuartal kedua. Proyeksi tersebut mencerminkan keseimbangan antara permintaan yang terkait electrifikasi dan keterbatasan pasokan tambang. Para pelaku pasar diharapkan memperhatikan dinamika siklus harga yang mungkin berlangsung hingga puncak tersebut tercapai.

Setelah puncak kuartal kedua, harga diperkirakan mengalami moderasi di semester kedua seiring pemulihan produksi di tambang besar. Dengan kapasitas produksi yang mulai pulih, tekanan kenaikan harga dapat mereda meskipun permintaan jangka panjang tetap kuat. Analisis ini menekankan bahwa pergeseran harga bisa bersifat bertahap dan tidak simetris.

Pergerakan harga juga diperkirakan dipengaruhi oleh faktor teknis dan fundamental lainnya yang berhubungan dengan lintasan investasi greenfield dan belanja modal industri. Skema ini mengasumsikan tidak ada gangguan eksternal besar yang mengubah jalur produksi atau permintaan dalam waktu dekat, sehingga pola harga akan mengikuti dinamika penawaran dan permintaan inti.

Pertimbangan risiko utama termasuk potensi tarif AS pada tembaga yang telah dimurnikan. Kebijakan tersebut berpotensi mengubah aliran logam menuju pasar utama dan meningkatkan volatilitas pada pertengahan hingga akhir tahun. Trader perlu memperhatikan sinyal teknis dan berita kebijakan untuk menilai momentum pasar.

Secara umum kebijakan perdagangan dapat mengubah arus logam dengan cepat, sementara saldo permintaan dan pasokan global tetap menjadi faktor kunci. Pergerakan harga tembaga bisa mencerminkan dinamika risiko geopolitik dan perubahan kebijakan yang berdampak pada biaya transportasi serta biaya impor. Pemantauan atas perubahan tarif dan respons pasar sangat diperlukan bagi investor dan trader.

Di sisi lain, meskipun arus logam ke AS berlanjut pada semester pertama, volatilitas tetap tinggi karena perubahan kebijakan bisa datang kapan saja. Analisis ini menyoroti pentingnya diversifikasi portofolio dan penggunaan kontrol risiko untuk menghadapi potensi fluktuasi harga di masa depan.

broker terbaik indonesia