Di tengah badai volatilitas global yang mengguncang, IHSG melompat-lompat di ujung Februari, menarik perhatian pasar. IHSG mencatat volatilitas yang ekstrem, dan pada Jumat 27 Februari 2026 akhirnya ditutup melemah 0,31% di level 8.209,33. Performa pekan itu menunjukkan koreksi kumulatif sebesar 0,75% dan penurunan bulanan sekitar 8,58%, menandakan dinamika yang rapuh di pasar domestik.
Mengikuti laporan riset BRI Danareksa, tekanan pasar berasal dari kedua sisi, global dan domestik. Kebijakan tarif tinggi AS terhadap impor panel surya Indonesia mencampur aduk persepsi mengenai kinerja ekspor dan risiko eskalasi proteksionisme. Di samping itu, ketegangan antara AS dan Iran memperbesar risiko gejolak regional yang dapat mengundang perjalanan risk-off ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya terlihat pada arus modal yang cenderung berhati-hati.
Secara domestik, fokus investor tertuju pada aturan minimum free float 15% yang berpotensi memicu notasi khusus dan risiko delisting bagi emiten yang belum memenuhi syarat. Peringatan S&P Global Ratings terkait tekanan fiskal juga memperuncing kekhawatiran atas pelebaran defisit dan dampaknya terhadap rating. Di tempat yang sama, aksi jual asing juga mewarnai perdagangan sejak pembukaan sesi hari itu, memperkecil peluang peningkatan IHSG dalam waktu dekat.
Secara teknikal, IHSG berada dalam fase konsolidasi yang rapuh dengan bias melemah. Indeks gagal menembus area resistance di sekitar 8.350 hingga 8.440, sehingga tekanan jual cenderung tetap ada dan prospek rebound berkurang. Indikator MACD juga menunjukkan histogram yang semakin mengecil, menandakan momentum penurunan yang sedang berlangsung.
Support kunci terletak di 8.150, dan jika level tersebut tertembus, potensi pelemahan bisa berlanjut ke kisaran 8.015–8.050 dalam beberapa sesi ke depan. Resistance terdekat berada di 8.350, yang menjadi rintangan utama bagi upaya IHSG untuk memulihkan arus pembeli. Kondisi teknikal ini menjaga arah IHSG tetap rentan terhadap pergerakan ke bawah dalam jangka pendek.
| Level | Level/Area | Keterangan |
|---|---|---|
| Resisten | 8.350 – 8.440 | Zona yang gagal ditembus, menjadi batas kenaikan |
| Support | 8.150 | Kunci penopang utama jika kembali turun |
Ringkas, kondisi teknikal saat ini menunjukkan peluang rebound terbatas dan fokus risiko berada pada area 8.150 jika harga tidak mampu mempertahankan level tersebut.
Meski ada sinyal teknis yang mengkhawatirkan, rekomendasi eksplisit untuk membeli atau menjual belum dapat dipastikan karena volatilitas dan ukuran target harga yang belum memenuhi kriteria risiko-imbalan minimal. Dalam konteks ini, posisi investor perlu diwaspadai, dengan mempertimbangkan tata kelola risiko seperti diversifikasi dan peninjauan ulang profil risiko. Cetro Trading Insight mendorong pendekatan hati-hati sambil tetap memperhatikan faktor fundamental yang mendasari pasar.
Alternatif skenario menuju penurunan lebih lanjut tetap terbuka jika skenario global memburuk atau jika dukungan teknis di 8.150 tergelincir. Investor bisa memprioritaskan manajemen risiko dan memantau dinamika kebijakan, arus modal asing, serta angka defisit fiskal yang dapat mempengaruhi sentimen pasar. Pemantauan volatilitas dan indikator teknikal serta data makro menjadi bagian penting dari strategi jangka pendek.
Disclaimer: Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor dan bisa berubah sesuai perkembangan pasar. Segala evaluasi di artikel ini bersifat analitis dan tidak menjadi ajakan untuk bertransaksi. Cetro Trading Insight menyajikan pembahasan pasar secara independen untuk membantu pemahaman investor Indonesian market.