Inflasi Februari 2025 Indonesia Diperkirakan 4.1% YoY, Didorong Basis Rendah dan Stimulus yang Menurun

trading sekarang

Media: Cetro Trading Insight

DBS Group Research memperkirakan inflasi Februari 2025 berada di level 4.1% secara tahunan. Angka ini dipicu terutama oleh basis yang sangat rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga tekanan harga terlihat lebih kuat meski sebagian komponen tetap terkendali. Analisis ini menekankan peran pergeseran base effect dalam pola inflasi bulan tersebut.

Pertumbuhan harga inti masih dipertahankan oleh dinamika permintaan domestik, sementara tahun lalu menghadirkan tekanan dari komponen harga yang volatil. Stimulus satu-off yang diterapkan pada kuartal pertama 2025 sudah menurun dampaknya terhadap beberapa harga yang dikendalikan pemerintah, sehingga efek pelonggaran itu mulai terlihat secara bertahap. Meski demikian, risiko harga pangan tetap menjadi perhatian karena volatilitas musiman dapat mempengaruhi interpretasi angka.

Secara keseluruhan, sebagian besar komponen CPI diperkirakan tetap terkendali. Namun base effect yang lebih lemah dan dinamika harga global memberi gambaran bahwa inflasi inti bisa mengalami tekanan lebih lanjut. Data inflasi bulan Februari nantinya juga akan diiringi oleh angka surplus perdagangan dan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi kebijakan moneter.

Biaya Personal Care dan Dampak Harga Logam

Harga logam berharga yang lebih tinggi diperkirakan menular ke segmen personal care, sehingga biaya di kategori ini naik meskipun faktor lain tetap terkendali. Lonjakan harga komoditas global mendorong biaya produksi dan kemasan yang berujung pada harga jual kepada konsumen. Bank Indonesia juga menilai bahwa volatilitas harga komoditas bisa memperbesar variasi inflasi jangka pendek.

Analisis menunjukkan bahwa dampak tersebut telah berkontribusi pada kenaikan harga personal care secara beruntun. Pada bulan kelima berturut-turut, beberapa produk perawatan pribadi diperkirakan mengalami kenaikan ganda digit dibandingkan periode sebelumnya. Para konsumen perlu memantau promo dan skema diskon untuk menjaga beban pengeluaran bulanan tetap terkendali.

Selain itu, mekanisme harga yang terkait dengan biaya administrasi dan perbaikan layanan publik turut mempengaruhi struktur biaya rumah tangga. Perubahan kebijakan harga berkala dan perubahan daya beli rumah tangga menjadi faktor penentu pergerakan inflasi inti. Walaupun tekanan umum terjaga, kontribusi dari logam berharga menjadi faktor utama di segmen konsumsi tertentu.

Prospek Perdagangan dan Kebijakan Tarif

Data perdagangan menunjukkan potensi surplus lebih dari $3 miliar, angka yang mendukung prospek ekspor Indonesia di tengah dinamika global. Komponen ekspor-impor menunjukkan respons yang lebih kuat terhadap permintaan luar negeri, terutama di sektor manufaktur dan komoditas. Surplus ini juga menjadi indikator positif bagi neraca pembayaran nasional.

Putusan pengadilan di Amerika Serikat terkait tarif dinilai berpotensi menurunkan tarif efektif dan memberi angin segar bagi ekspor Indonesia ke pasar global. Penurunan tarif memungkinkan barang ekspor Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar internasional, meski hambatan logistik dan biaya transportasi juga menjadi faktor penentu. Pemerintah dan pelaku bisnis akan menilai implikasi kebijakan tersebut terhadap rencana ekspor jangka menengah.

Secara umum, dinamika inflasi, perdagangan, dan kebijakan tarif menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menavigasi kombinasi risiko dan peluang. Kombinasi ini memperkuat prospek ekspor, meskipun tekanan inflasi yang moderat tetap menjadi fokus kebijakan. Investor juga perlu memantau sinyal pasar global yang dapat mempengaruhi arus modal dan likuiditas di pasar domestik.

broker terbaik indonesia