Prediksi DBS Group Research menunjukkan bahwa inflasi inti dan inflasi headline Singapura berpotensi meningkat menjadi 1,5 persen year-on-year pada Januari 2026, dari 1,2 persen pada Desember 2025. Efek basis yang lebih rendah dan kenaikan harga jasa turut memberi kontribusi pada laju harga secara umum.
Kenaikan ini juga mencerminkan dinamika harga layanan yang lebih tahan banting meskipun momentum konsumsi rumah tangga masih bergantung pada sektor jasa. Analis melihat tekanan inflasi cenderung meningkat meski faktor-faktor jangka pendek bisa berubah mengikuti kebijakan moneter dan perkembangan permintaan domestik.
Dalam konteks ini, proyeksi tersebut menunjukkan adanya korelasi antara harga dan aktivitas ekonomi Singapura. Pelaku pasar dan rumah tangga perlu memantau arah kebijakan moneter yang mungkin menyesuaikan respon terhadap tanda inflasi yang membaik. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Industri manufaktur diperkirakan masih menunjukkan ekspansi untuk bulan kelima berturut-turut, dengan pertumbuhan IP sebesar 20,0 persen year-on-year pada Januari 2026, dibandingkan 8,3 persen pada Desember 2025. Angka ini menandakan momentum produksi yang lebih kuat di tengah permintaan global yang terus meningkat.
Pertumbuhan output didorong terutama oleh kinerja sektor elektronik yang sangat kuat, terutama barang-barang yang terkait dengan kecerdasan buatan. Peningkatan kebutuhan akan memori chip dan produk server mendorong volume produksi untuk tetap tinggi di sepanjang kuartal ini.
Ekspor elektronik domestik juga melonjak sebesar 56,1 persen year-on-year pada Januari, didorong oleh permintaan AI untuk memori chip dan produk server. Perkembangan ini menandai percepatan aktivitas manufaktur yang lebih berfokus pada teknologi tinggi.