Pasar saham Indonesia kembali hidup dengan sorotan besar pada investor ritel, meski dinamika ekonomi global terus menghadirkan tantangan pada papan perdagangan. Data Bursa Efek Indonesia per 31 Januari 2026 menunjukkan pola minat yang tetap kuat terhadap emiten berprofil fundamental, khususnya di sektor perbankan dan tambang. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa gairah investasi publik tetap relevan meski volatilitas pasar sedang mencoba menyeimbangkan risiko.
BBRI menjadi saham dengan jumlah pemegang saham terbanyak di BEI, tercatat mencapai 705.599 investor. Angka ini menegaskan posisi dominan bank pelat merah dalam ekosistem pemegang saham ritel, meskipun terdapat penurunan sebanyak 17.861 pemegang dibanding Desember 2025.
Di posisi kedua, BBCA mencatat 640.135 pemegang saham, naik sebesar 61.958 dalam sebulan terakhir. Sementara itu, sektor tambang turut menunjukkan dinamika menarik dengan BUMI berada di peringkat ketiga dengan 550.806 pemegang saham, lonjakan fantastis sebesar 187.813 pemegang dalam periode yang sama.
Lonjakan pemegang saham terbesar terlihat pada Bumi Resources Tbk BUMI, sebuah emit en tambang batu bara milik Grup Bakrie dan Grup Salim. Saat ini, BUMI mencatat 550.806 investor, meningkat 187.813 dibanding Desember 2025, menjadikannya lonjakan terbesar sepanjang Januari 2026.
Di samping itu, GoTo Gojek Tokopedia Tbk GOTO juga menunjukkan dinamika positif dengan total pemegang saham 382.446, bertambah 18.960 dalam sebulan. Bank Mandiri (BMRI) pun mencatat peningkatan ke 299.724 investor, naik 27.427 pada periode yang sama.
Di sektor non-perbankan, dinamika pemegang saham juga terlihat beragam. CDIA turun menjadi 261.497 pemegang (-9.331), ANTM naik tipis menjadi 226.051 (+2.351), EXCL meningkat menjadi 223.693 (+1.807), DEWA melonjak ke 207.863 (+71.016), dan ADRO berada di urutan ke-10 dengan 188.548 (-33.012).
Data ini mengindikasikan minat investor ritel yang tetap terfragmentasi antara sektor perbankan dan tambang, dengan bank menunjukkan posisi magnet utama karena likuiditas dan prospek keuntungan jangka menengah. Struktur kepemilikan yang beragam menandakan adanya preferensi terhadap perusahaan dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.
Bagi investor, memahami fundamental perusahaan, kebijakan dividend, serta prospek kinerja sektor menjadi kunci memahami dinamika pemegang saham. Cetro Trading Insight menilai bahwa perubahan jumlah pemegang saham sering kali mencerminkan persepsi pasar terhadap potensi keuntungan di periode mendatang, terutama pada emiten berkapitalisasi besar.
Narasi pasar saat ini menekankan pentingnya diversifikasi dan kehati-hatian dalam mengambil posisi. Platform kami, Cetro Trading Insight, menekankan bahwa keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor. Untuk membantu pembaca, tim kami mendorong riset menyeluruh, pemantauan kinerja emiten, dan manajemen risiko yang bijak dalam menghadapi dinamika pemegang saham seperti yang terlihat di BEI Januari 2026.