Dalam laporan terbaru, TD Securities memperkirakan bahwa Premier Li akan mengumumkan rentang target PDB sekitar 4,5–5,0% untuk tahun 2026 pada pertemuan Two Sessions. Defisit anggaran gambaran besar diperkirakan mendekati 9% terhadap PDB, dengan sikap fiskal yang masih akomodatif. Langkah ini menunjukkan niat kebijakan untuk menjaga ruang pelonggaran sambil menstabilkan prospek pertumbuhan melalui stimulus fiskal.
Para pembuat kebijakan tampak menempatkan permintaan domestik sebagai prioritas utama. Rencana ini mencakup kebijakan yang menyasar konsumsi dan investasi, untuk mengimbangi perlambatan investasi aset tetap di periode sebelumnya. Upaya diversifikasi mesin ekonomi menuju konsumsi dipandang sebagai langkah bertahap untuk menjaga ritme pertumbuhan jangka panjang.
Dalam konteks ini, program stimulus terarah untuk konsumen, serta program tukar tambah (trade-in) diyakini akan berlanjut pada 2026. Pendekatan ini bertujuan merangsang konsumsi rumah tangga tanpa menambah beban utang publik secara berlebihan. Secara keseluruhan, fokus kebijakan tetap pada menjaga permintaan domestik melalui dukungan fiskal yang akomodatif.
Para analis menilai bahwa permintaan domestik menjadi poros laju pemulihan ekonomi. Kebijakan fiskal diharapkan mendorong konsumsi rumah tangga melalui insentif langsung, peningkatan daya beli, serta program-program yang bertujuan memperkuat sektor konsumsi. Ketidakpastian global tetap menjadi faktor penentu, namun dukungan domestik diharapkan menstabilkan aliran investasi domestik jangka menengah.
Target stimulus konsumen yang diterapkan secara selektif mencakup program-program seperti tukar tambah serta paket insentif untuk pembelian barang-barang berorientasi konsumsi. Kebijakan tersebut dirancang untuk mengangkat sektor konsumsi dan mempercepat laju pertumbuhan melalui peningkatan aktivitas ritel. Langkah berkelanjutan ini diharapkan mampu mendorong perputaran uang dan meningkatkan permintaan dalam ekonomi domestik.
Diversifikasi mesin ekonomi ke arah konsumsi dianggap sebagai proses bertahap, dengan pemerintah mengambil langkah-langkah terukur untuk mengurangi ketergantungan pada sektor ekspor dan investasi infrastruktur. Perombakan kebijakan ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan sambil menjaga stabilitas fiskal. Dengan demikian, penggunaan fiskal yang terarah diharapkan memperbaiki profil permintaan nasional secara berkelanjutan.
Secara umum, kebijakan fiskal yang lebih akomodatif dapat menambah dukungan bagi saham terkait konsumsi dan layanan domestik, meski efeknya terhadap volatilitas bisa membatasi. Investor akan menimbang bagaimana target PDB dan defisit mempengaruhi prospek pertumbuhan, inflasi, dan neraca fiskal. Pesaing global juga bisa merespons melalui revisi proyeksi pertumbuhan regional yang memicu penyesuaian portofolio.
Di sisi pasar, ekspektasi atas stimulus dan pemulihan permintaan domestik dapat mendorong sentimen risiko positif dalam ekonomi Asia dan global. Namun, faktor-faktor seperti gejolak kebijakan, dinamika utang, serta perubahan sikap kebijakan bank sentral tetap menjadi risiko penting. Pedagang disarankan untuk memantau indikator ekonomi dan komentar kebijakan yang dapat mengubah jalannya pasar.
Karena laporan ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan rencana fiskal, sinyal trading yang spesifik untuk instrumen tertentu tidak bisa ditarik dari informasi ini. Oleh karena itu, rekomendasi trading pada artikel ini adalah no, dengan evaluasi lebih lanjut diperlukan ketika ada sinyal teknikal atau konfirmasi instrumen yang relevan.