Fundamentals menunjukkan ada cukup pasokan energi menuju 2026. Produksi non-OPEC terus meningkat dari negara utama seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana, sehingga pasar diperkirakan berada pada keseimbangan yang lebih nyaman. Selain itu, kapasitas LNG baru yang signifikan akan segera beroperasi, menekan tekanan pada harga minyak dan gas. OPEC+ juga telah menghentikan peningkatan produksi lebih lanjut untuk menghindari potensi surplus, sehingga skenario dasar harga menjadi lebih moderat.
Kesiapan infrastruktur energi—terutama LNG—menambah fleksibilitas suplai global. Gelombang kapasitas LNG yang berasal dari AS dan Qatar diperkirakan memperluas opsi pengaliran gas ke pasar-pasar utama. Hal ini berfungsi sebagai bantalan terhadap gangguan pasokan di masa mendatang. Secara keseluruhan, dinamika ini menambah ruang bagi harga minyak dan gas untuk berada pada level yang lebih rendah dibandingkan level 2025.
Meski ada akselerasi suplai, dinamika pasar tetap dipengaruhi faktor-faktor teknis maupun kebijakan. Para analis menekankan bahwa pasar energi tidak akan melambai secara linier, karena faktor musiman, biaya transportasi, serta perubahan permintaan industri bisa mempersempit atau memperluas celah harga. Oleh karena itu, ekspektasi menuju 2026 masih menimbang antara fondasi fundamental dan risiko makro yang sedang berjalan.
Ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong volatilitas utama meski fondasi pasokan tetap terkendali. Isu seputar Iran, risiko di Selat Hormuz, serta dinamika tarif antara AS dan UE terkait Greenland menambah variasi harga. Proyeksi harga menjadi lebih kompleks karena skenario kebijakan bisa berubah dengan cepat, menjaga volatilitas pasar energi pada level yang relatif tinggi.
Kebijakan tarif dan tensi geopolitik tidak hanya memicu fluktuasi harga, tetapi juga mempengaruhi aliran energi secara konkret. Sinyal pasar menunjukkan bahwa aliran energi kritis antara UE dan AS diperkirakan tetap utuh meskipun ada tekanan eksternal. Investor perlu mengantisipasi pergeseran risiko geopolitik yang bisa menekan likuiditas atau mengubah arah arus perdagangan energi.
Di tengah ketidakpastian, hubungan yang kuat antara pasar energi UE-AS tetap menjadi faktor kunci. Keterhubungan itu membuat sangat sulit bagi salah satu pihak menargetkan LNG atau aliran bahan bakar secara lebih luas tanpa dampak pada pihak lain. Perubahan kebijakan bisa mengubah pola perdagangan, namun arah umumnya menuju stabilitas relatif dalam konteks aliran LNG.
Hubungan pasar energi antara UE dan AS sangat erat, sehingga dampak kebijakan satu pihak memengaruhi pihak lain secara langsung. Eropa kini sangat bergantung pada pasokan AS, sementara AS telah mengandalkan Eropa sebagai outlet LNG utama setelah kehilangan pasar China. Kondisi ini membentuk kerangka bagi perencanaan pasokan LNG yang berfokus pada fleksibilitas dan diversifikasi rute ekspor.
Potensi peningkatan kapasitas LNG dari AS dan Qatar dipandang sebagai sarana menjaga kelangsungan aliran gas ke pasar utama. Meskipun ada ketidakpastian geopolitik, kapasitas tambahan ini meningkatkan kemampuan pasar untuk merespons gangguan pasokan secara efisien. Investor tetap perlu memantau dinamika kebijakan dan persaingan pengadaan LNG global.
Secara keseluruhan, meskipun fundamenta menunjukkan surplus pasokan di 2026, volatilitas tetap menjadi bagian dari lanskap energi. Proyeksi harga menuju 2026 berada pada arah penurunan relatif dibanding 2025, namun perubahan kebijakan atau gangguan geopolitik bisa menggeser tren tersebut dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk fokus pada faktor-faktor fundamental dan risiko geopolitik yang relevan saat menyusun strategi.