Harga minyak global terseret ke bawah pada sesi perdagangan Kamis, menandai momen penting di mana permintaan global menunjukkan tanda pelambatan dan pasokan melimpah mulai mendominasi narasi harga. Gejolak di Timur Tengah yang sempat menguat kini mereda, memberi ruang bagi para pelaku pasar untuk menilai faktor-faktor fundamental secara lebih luas. Di Cetro Trading Insight kami menekankan bahwa perubahan sentimen ini bisa menandai babak baru bagi pasar minyak.
Brent ditutup di USD 67,52 per barel, turun 2,71 persen, sementara WTI AS melemah ke USD 62,84 per barel dengan penurunan 2,77 persen. Pergerakan kedua patokan minyak global ini menegaskan arah pelemahan yang telah terlihat belakangan setelah publikasi data industri terbaru. Pasar sedang menimbang laporan bulanan IEA yang menyoroti perlambatan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini.
Analisis di bidang energi menunjukkan bahwa permintaan minyak global tahun ini tumbuh lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, yang meningkatkan tekanan ke pasar. Laporan tersebut juga menyoroti adanya surplus pasokan yang cukup besar meskipun sempat muncul gangguan produksi pada Januari. Ketidakpastian geopolitik semestinya tetap diperhatikan karena faktor-faktor tersebut bisa memicu volatilitas di jangka pendek.
Dalam konteks pasokan, laporan IEA menekankan bahwa meski ada gangguan produksi pada Januari, pasar minyak diperkirakan tetap mengalami surplus yang cukup besar. Kondisi ini memberi sinyal bahwa dinamika pasokan global bisa mengimbangi laju permintaan yang melambat, sehingga tekanan penurunan harga bisa berlangsung lebih lama. Para trader perlu memperhatikan pengaruh kebijakan produksi dan aliran perdagangan minyak mentah terhadap horizon perdagangan.
Dari sisi data AS, persediaan minyak mentah meningkat tajam. Menurut EIA, stok mentah AS naik 8,5 juta barel pekan lalu menjadi 428,8 juta barel, melampaui ekspektasi analisis yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 0,8 juta barel. Utilisasi kilang turun 1,1 poin persentase menjadi 89,4 persen, memberikan gambaran bahwa sektor energi tetap aktif meski permintaan berfluktuasi.
Dari sisi pasokan global, ekspor produk minyak Rusia melalui jalur laut pada Januari naik 0,7 persen dibanding Desember menjadi 9,12 juta metrik ton. Peningkatan ini dipicu tingginya produksi bahan bakar dan penurunan musiman permintaan domestik di Rusia. Perkembangan ini menambah dinamika neraca pasokan global yang perlu dicermati pelaku pasar dalam beberapa minggu ke depan.
Melihat arah kebijakan dan dinamika geopolitik, para analis melihat potensi tekanan berkelanjutan pada harga minyak. Faktor utama adalah negosiasi antara AS dan Iran terkait isu nuklir serta bagaimana hal itu mempengaruhi risiko geopolitik. Pembahasan seputar negosiasi yang konstruktif bisa menurunkan premi risiko geopolitik secara global.
Pada aspek supply, beberapa pihak menilai peningkatan pasokan dari Venezuela bisa menjadi faktor tambahan yang menekan harga minyak ke depan. Secara teknis, pergerakan harga juga dipengaruhi dinamika rantai pasokan global dan permintaan industri yang beragam. Sementara itu, pelaku pasar melihat peluang trading berbasis data fundamental dan teknikal untuk menempatkan posisi sesuai profil risiko, termasuk potensi posisi jual ketika sinyalnya relevan.
Untuk pembaca di Cetro Trading Insight, volatilitas pasar minyak diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang. Inti analisis adalah memahami gap antara permintaan dunia dan pasokan serta memantau perubahan kebijakan produsen utama. Jika data mendukung skenario surplus berkelanjutan, strategi selling dengan manajemen risiko yang tepat bisa menjadi opsi yang relevan.