Minyak dunia bergerak di ujung tanduk antara optimisme pasokan dan risiko geopolitik, pasca data inflasi AS yang lebih lemah mendorong sentimen pasar. Brent ditutup di 67,75 dolar per barel dan WTI di 62,89 dolar, menunjukkan dinamika harga yang tetap rapuh meski ada dorongan harian. Secara mingguan, keduanya memang mengalami penurunan meskipun pergerakan harian sempat sedikit menguat.
Pasokan global tetap menjadi fokus utama, dengan OPEC+ condong menaikkan produksi. Data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi meningkatkan sentimen bahwa tekanan ke atas harga bisa terbatas dalam beberapa minggu ke depan. Analisis pasar menunjukkan bahwa permintaan tetap moderat meski produksi AS tetap kuat, sehingga volatilitas minyak relatif terkendali.
Geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah dan isu Iran, tetap menjadi bayang-bayang yang perlu diwaspadai. Namun pelaku pasar besar cenderung tenang dan fokus pada data ekonomi serta kebijakan produsen besar untuk menilai arah berikutnya. Dengan pasokan yang stabil, pergerakan harga bisa berayun antara tekanan ke bawah dan peluang rebound teknikal tergantung pada faktor risiko dan sentimen global.
Inflasi CPI AS Januari menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan, didorong harga bensin yang lebih murah dan perlambatan inflasi sewa. Data ini menambah dukungan bagi pandangan bahwa tekanan harga secara luas mungkin tidak akan membesar dalam waktu dekat. Cetro Trading Insight menilai bahwa dinamika fundamental ini menguntungkan stabilitas pasar minyak untuk beberapa saat ke depan.
Di sisi produksi, aktivitas pengeboran dan volume output di AS tetap kuat, menjaga pasokan tetap optimal. Pasar juga mengawasi risiko geopolitik terkait Timur Tengah, tetapi belum terlihat eskalasi signifikan yang bisa mengganggu pasokan global. Pelaku pasar cenderung berhati-hati karena volatilitas bisa kembali jika data ekonomi berubah.
Meski sentimen geopolitik tidak mendorong reli berkelanjutan, kisaran harga WTI yang lebih rendah di kisaran bawah dapat menjadi peluang jika permintaan membaik. Investor berharap pasokan tetap relatif stabil sambil menunggu sinyal dari data ekonomi global. Ketidakpastian kebijakan energi di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang membatasi langkah harga.
Proyeksi mingguan untuk WTI menunjukkan kisaran spekulatif antara 60,64 dan 66,20 dolar per barel. Para analis menilai bahwa harga saat ini berada di ujung bawah kisaran tersebut, dengan peluang rebound jika sentimen pasar membaik. Namun, orientasi tersebut bergantung pada stabilitas pasokan dan tidak adanya eskalasi geopolitik yang signifikan.
Meski harga berada di dekat level rendah, peluang rebound teknikal tetap terbuka di area atas kisaran jika tekanan pasokan berkurang. Namun, faktor fundamental menunjukkan bahwa pasokan tetap cukup dan permintaan global belum menunjukkan ledakan kuat. Oleh sebab itu, pergerakan jangka pendek bisa berfluktuasi dengan risiko volatilitas rendah.
Dalam konteks teknis, pasar minyak menunjukkan dinamika yang lebih tenang berkat pemantauan ketat dari produsen besar dan investor institusional. Risiko geopolitik di Timur Tengah tetap ada, tetapi belum menjadi pendorong reli jangka pendek. Karena itu, keputusan trading perlu didasarkan pada data fundamental dan indikator teknikal yang terarah, bukan spekulasi semata.