Penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 8.448 triliun pada Desember 2025, menandai tonggak penting bagi industri keuangan nasional. Angka ini mencerminkan momentum pemulihan ekonomi secara luas dan ketersediaan fasilitas pembiayaan bagi rumah tangga maupun korporasi. Bank-bank nasional dikatakan menjaga likuiditas yang cukup meskipan volatilitas pasar masih terlihat di beberapa segmen.
Kenaikan penyaluran kredit didorong oleh permintaan modal kerja yang meningkat serta pembiayaan rumah tangga untuk pembelian properti dan konsumsi. Pelaku usaha menilai kondisi likuiditas yang lebih nyaman dan suku bunga yang masih kompetitif sebagai faktor pendorong utama. Sektor ritel dan industri manufaktur juga mencatat peningkatan aktivitas yang memanfaatkan fasilitas kredit jangka pendek dan menengah.
Meski tren positif terlihat, pengawas industri keuangan menekankan pentingnya menjaga kualitas aset. Bank Indonesia dan OJK terus memonitor kualitas kredit dan risiko yang mungkin muncul akibat dinamika ekonomi. Seiring dengan itu, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati terhadap tekanan volatilitas suku bunga dan biaya pinjaman yang bisa berubah seiring waktu.
Relaksasi kebijakan moneter secara bertahap dan suku bunga yang relatif kompetitif telah membuka peluang bagi bank untuk meningkatkan penyaluran. Bank-bank menghadirkan produk pembiayaan yang lebih fleksibel, memadukan pembayaran cicilan yang ringan dengan tenor yang lebih panjang.
Peningkatan permintaan kredit dari sektor korporasi untuk modal kerja dan ekspansi produksi juga mendorong lonjakan penyaluran. Selain itu, segmen pembiayaan konsumen mengalami kenaikan, didorong oleh program pembelian rumah dan kendaraan yang didukung skema kredit ringan. Perluasan kanal digital turut mempercepat proses evaluasi dan persetujuan kredit.
Teknologi keuangan memainkan peran penting dalam mempercepat proses persetujuan kredit. Digital onboarding, evaluasi risiko berbasis data, dan layanan pelanggan yang lebih responsif membuat penyaluran lebih efisien tanpa mengorbankan disiplin kredit.
Lonjakan penyaluran kredit dapat mempengaruhi arus kas bank, meningkatkan pendapatan bunga dan potensi ekspansi portofolio aset. Namun, investor perlu memantau bagaimana volatilitas suku bunga dan kebijakan regulator mempengaruhi biaya pinjaman serta keuntungan bank.
Dampak terhadap pasar valuta bisa muncul melalui perubahan persepsi risiko dan aliran modal asing. Jika kredit berkembang kuat, kurva imbal hasil bisa mengalami penyesuaian, meski faktor eksternal seperti harga komoditas dan sentimen global tetap menjadi penentu utama.
Kualitas kredit tetap menjadi fokus utama. Bank dan regulator perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengendalian risiko. Bagi investor, penekanan pada manajemen risiko bank-bank besar dan kinerja neraca akan menjadi kunci untuk menilai peluang jangka menengah.