
Rupiah tertekan di penutupan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, menandai babak baru dalam volatilitas pasar uang Indonesia meskipun ada sinyal pemulihan di sektor manufaktur. Dalam sorotan utama, investor menilai arah kebijakan dan prospek inflasi ke depan. Cetro Trading Insight mencermati dinamika ini sebagai momen penting bagi arus modal dan stabilitas rupiah.
PMI Manufaktur Indonesia untuk Mei 2026 dilaporkan naik ke 50,0, menunjukkan ekspansi ringan setelah kontraksi di bulan sebelumnya. Meskipun angka tersebut positif, para analis menekankan bahwa biaya bahan baku yang meningkat dan gangguan pasokan membatasi daya dorong produksi. Data ini juga mencerminkan permintaan domestik yang kuat yang mendorong pesanan baru naik untuk dua bulan berturut-turut.
Faktor-faktor global turut mempengaruhi pergerakan rupiah, termasuk kebijakan dan dinamika geopolitik yang membayangi arus modal. Rupiah turun 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per USD, menunjukkan bahwa prospek ekspor-impor dan likuiditas pasar masih rentan. Investor juga memantau dampak kenaikan biaya produksi pada margin perusahaan domestik.
BPS melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD 89,1 juta pada April 2026, menjaga tren surplus yang telah berlangsung 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kendati dinamika global menambah ketidakpastian, angka ini menunjukkan fondasi eksternal yang relatif stabil. Cetro Trading Insight menilai hal ini mencerminkan kekuatan industri pengolahan dan ekspor nonmigas domestik.
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari–April 2026 mencapai USD 5,64 miliar, didorong oleh kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan. Penopang utama adalah permintaan domestik yang tetap kuat dan kapasitas produksi yang memadai meskipun tekanan biaya. Data ini menambah ruang bagi kebijakan fiskal yang bertumpu pada stabilitas eksternal.
Faktor eksternal seperti gejolak politik di beberapa wilayah dan kebijakan perdagangan baru juga menambah ketidakpastian bagi pasar Indonesia. Namun, tren surplus yang berkelanjutan menunjukkan daya tahan sektor ekspor nasional di tengah lingkungan global yang berubah cepat. Secara keseluruhan, kinerja ekspor nonmigas dan manufaktur menjadi penopang utama surplus.
Perkembangan geopolitik global turut membentuk sentimen pasar, terutama komentar Presiden AS tentang Iran dan kelanjutan negosiasi yang dapat mempengaruhi harga minyak dan arus energi. Dalam beberapa kutipan, Trump menyatakan kesiapan membiarkan pembicaraan berakhir sambil menantikan kesepakatan yang bisa meredakan ketegangan. Analisis Cetro Trading Insight menilai potensi volatilitas jangka pendek meningkat jika negosiasi menunjukkan kemajuan atau kegagalan.
Situasi di Teluk dan eskalasi antara Hizbullah dan Israel menambah risiko pasokan minyak mentah dan gas alam cair global, memicu dinamika harga komoditas energi. Kondisi ini berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, jika arus modal terguncang. Investor akan memantau bagaimana aliran produk energi dan volatilitas pasar berinteraksi dengan neraca perdagangan domestik.
Trump juga menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi, dengan beberapa peralatan industri dikenai 15 persen hanya jika negara tujuan memiliki perjanjian perdagangan tertentu. Langkah ini ditujukan untuk mendorong investasi jangka pendek dan membangun basis industri nasional hingga 2027. Dinamika kebijakan ini bisa mempengaruhi arus investasi asing di sektor manufaktur Indonesia jika pola perdagangan global berubah.