Presiden Amerika Serikat, dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Jumat, menyampaikan niat untuk memperluas tarif melalui kerangka hukum alternatif. Ia menegaskan bahwa tindakan tarif baru akan menggunakan mekanisme yang dinilai nasional secara strategis penting bagi keamanan ekonomi negara. Pernyataan ini menyoroti fokus berulang pada perlindungan manufaktur domestik dan tekanan terhadap mitra dagang utama.
Beberapa tarif yang berlaku saat ini memang berlandaskan Section 301, namun sebagian besar pungutan terkait perdagangan telah dilakukan melalui IEEPA. Kebijakan ini telah menjadi alat utama untuk membatasi impor dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pengumuman "Liberation Day" pada awal 2025. Analisis kebijakan menunjukkan adanya pergeseran prioritas dari IEEPA menuju jalur Section 301 sebagai respons terhadap tantangan hukum.
Seiring putusan Mahkamah Agung yang membatasi IEEPA, tim Trump diperkirakan akan beralih agresif ke tarif melalui Section 301. Presiden menegaskan kemungkinan pelaksanaan putaran tarif baru hampir saat konferensi pers berakhir. Dalam lintasan ini, Cetro Trading Insight menilai langkah tersebut memperbesar ketidakpastian perdagangan dan menambah beban biaya bagi pelaku usaha global.
Putusan Mahkamah Agung yang membatasi penggunaan IEEPA memungkinkan pergeseran strategi kebijakan tarif ke jalur Section 301 secara lebih tegas. Dalam konteks tersebut, potensi implementasi tarif baru secara langsung hampir menggantungkan pada keputusan eksekutif dan kerangka hukum yang berlaku. Pasar global merespons dengan meningkatnya volatilitas karena spekulasi tentang sikap pejabat tertentu terhadap perdagangan internasional.
Para pelaku bisnis dan konsumen di AS dapat dihadapkan pada beban biaya impor yang lebih tinggi, yang mungkin berujung pada litigasi untuk menuntut pengembalian biaya asing. Proses hukum yang berlarut-larut dan ketidakpastian tarif menambah biaya kepatuhan bagi perusahaan dan menguji struktur rantai pasokan. Ketidakpastian ini juga bisa mengurangi permintaan domestik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Di level pasar, para investor memperhitungkan risiko tarif sebagai faktor volatilitas dan koreksi harga di berbagai kelas aset. Arah kebijakan yang tidak terduga dapat mendorong aliran modal menuju aset lindung nilai dan mata uang yang dianggap lebih aman. Namun demikian, potensi reaksi positif terhadap upaya pelindung industri tertentu tetap mungkin terjadi jika pasar melihat langkah-langkah kompensasi dari pemerintah.
Implikasi langsung bagi pasar global termasuk biaya impor yang lebih mahal bagi perusahaan dan konsumen, serta potensi kenaikan harga barang. Tekanan biaya ini bisa meredam laba perusahaan, menekan daya beli, dan menambah tekanan inflasi dalam beberapa kuarter ke depan. Kebijakan ini juga memperkuat ketidakpastian hubungan perdagangan, yang cenderung mengurangi investasi produktif.
Para analis menekankan bahwa kebijakan tarif yang bersifat dinamis meningkatkan risiko bagi perencanaan modal dan ekspansi, terutama bagi korporasi dengan rantai pasokan global. Investor pasar uang akan menilai likuiditas dan durasi kebijakan, dengan fokus pada suku bunga, imbal hasil obligasi, dan volatilitas mata uang.
Apa yang perlu diperhatikan pelaku pasar adalah memantau pengumuman resmi, progres litigasi, dan pernyataan resmi pejabat pemerintah yang bisa mengubah lintasan kebijakan. Diversifikasi portofolio dan evaluasi risiko negara menjadi bagian penting strategi. Untuk investor yang ingin mengambil posisi, pendekatan berbasis data dan pemantauan indikator makro akan lebih relevan daripada spekulasi jangka pendek.