Menurut Eugene Leow, ekonom DBS Group Research, US Treasuries tetap resilien meski ada kabar bahwa China mendorong bank-bank untuk mengurangi eksposur terhadap utang AS dan imbal hasil JGB Jepang meningkat. Kondisi ini menolong pasar obligasi AS tetap tenang karena fokus investor beralih pada aliran dana dan dinamika kebijakan moneter. Meski sentimen geopolitik bisa menggoyang sentimen pasar sesaat, pembentukan yield AS tampaknya lebih dipantau dari sisi kebijakan moneter.
Pasar saat ini memperkirakan lebih dari dua pemotongan The Fed hingga akhir 2026, sehingga suku bunga AS mencerminkan skenario pertumbuhan NFP dan penjualan ritel yang lebih lemah. Leow menyatakan bahwa imbal hasil USD kemungkinan sudah mencerminkan NFP yang lebih lemah dari konsensus serta angka penjualan ritel yang terhenti. Karena itu, reaksi terhadap data CPI yang akan datang cenderung terbatas.
DBS juga menilai CPI tidak akan menjadi hambatan signifikan bagi penurunan suku bunga di beberapa kuartal ke depan. Dari sudut pandang pasar, inflasi yang berjalan moderat memberi ruang bagi The Fed untuk menempuh jalur pelonggaran tanpa tekanan harga yang membumbui aksi pasar.
Ketika membahas inflasi untuk enam bulan ke depan, DBS mencatat bahwa pasar mengharapkan inflasi inti sekitar 2% secara tahunan, sementara di paruh kedua tahun ini ekspektasi mencatat kenaikan menjadi sekitar 3,1% secara annualized.
Intinya, daftar inflasi yang disebut sebagai inflation fixings menunjukkan inflasi tidak menjadi penghalang bagi langkah The Fed untuk memangkas suku bunga dalam beberapa kuartal berikutnya. Namun jalur kebijakan bisa bergerak sesuai data yang keluar dan dinamika pertumbuhan yang tersirat di pasar.
Dengan pola inflasi seperti itu, pergerakan imbal hasil akan bergantung pada bagaimana data inflasi dan pekerjaan mempengaruhi ekspektasi kebijakan. Investor perlu memantau sisi data agar tidak salah menilai sinyal terkait obligasi dan instrumen terkaitnya.
Fokus kini beralih ke data utama pekan ini, yaitu penjualan ritel yang dirilis hari ini, Nonfarm Payrolls (NFP) pada 11, dan Consumer Price Index (CPI) pada 13. Ketiga rilis ini dipantau untuk mengukur intensitas risiko dan arah imbal hasil di pasar obligasi.
Level yield saat ini mencerminkan ekspektasi bahwa NFP mungkin lebih lemah dari konsensus (sekitar 68 ribu) dan penjualan ritel cenderung datar, sehingga respons terhadap CPI bisa netral. Kondisi ini meningkatkan peluang bagi trader untuk meninjau kembali posisi di pasar obligasi dan derivatifnya.
Walau CPI tidak diharapkan mengguncang arah pasar secara signifikan, para pelaku pasar disarankan mengurai data tersebut untuk menilai peluang trading pada obligasi AS dan produk terkait. Dengan risiko-untung minimal 1:1.5, strategi yang relevan adalah menyeimbangkan eksposur terhadap pergerakan suku bunga tanpa mengambil risiko berlebih pada fluktuasi jangka pendek.