Artikel ini menyoroti pendapat Lee Hardman, Analis Mata Uang Senior MUFG, terkait data GDP Q4 Jepang yang lebih lemah. Data tersebut menambah kejutan bagi yen dan menandai pelambatan kekuatan mata uang regional. USD/JPY rebound di atas 153.00 setelah sempat menyentuh 152.27 menggambarkan dinamika pasar yang tetap sensitif terhadap arah kebijakan BoJ.
Penurunan pertumbuhan didorong terutama oleh inventaris dan investasi publik, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ melambat. Meski begitu, pasar tetap melihat peluang pengetatan lebih lanjut dari BoJ meski momentum menipis. Level teknikal penting yang diawasi berada di sekitar 152.00 dan rata-rata bergerak 200 hari di sekitar 150.60, yang menjadi kerangka bagi pergerakan jangka pendek.
Meningkatnya sinyal perlambatan ekonomi Jepang membebani prospek pertumbuhan pada awal tahun. Analisis MUFG menekankan bahwa pelemahan yen diminati oleh pasar karena ekspektasi terhadap kebijakan BoJ yang lebih konservatif. Dengan latar belakang itu, fokus kini beralih pada bagaimana data ekonomi berikutnya dan respons kebijakan BoJ bisa membentuk arah USD/JPY ke depan.
Secara teknikal, pergerakan USD/JPY telah menembus level sekitar 153.00 dan menunjukkan momentum kenaikan yang lebih luas. Rebound setelah menyentuh 152.27 menandai minat beli yang kembali muncul di pasar mata uang. Level support di sekitar 152.00 serta kehadiran 200-day moving average di sekitar 150.60 tetap menjadi referensi penting bagi trader.
Jika harga bertahan di atas 152.00 dan menembus kisaran 153.50–154.00, peluang kenaikan lanjutan menuju 155.00–155.50 meningkat. Namun jika turun di bawah 152.00 atau melemah ke 150.60 MA, risiko koreksi cukup besar dan skenario perubahan arah bisa muncul. Pelaksanaan manajemen risiko disarankan untuk menjaga kerugian terbatas.
Pelaku pasar memadukan analisis fundamental dengan indikator teknikal dalam pengambilan keputusan. Berita Q4 Jepang yang lemah menjadi katalis pertama, namun respons teknikal di atas 152.00 menunjukkan minat beli yang relatif kuat di level tersebut. Wawasan dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa kebijakan BoJ bisa berubah jika data depan sangat lemah atau kuat, sehingga risiko kebijakan perlu dimonitor terus.
Implikasi utama dari data GDP Jepang yang lebih lemah adalah berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada masa depan. Hal ini memperkuat tekanan pada yen dan menjaga USD/JPY berada dalam bias kenaikan. Perbedaan kebijakan antara AS dan Jepang menjadi pendorong utama pergerakan pasangan mata uang ini.
Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan BoJ lebih lanjut meskipun momentum pertumbuhan melemah. Jika data selanjutnya konsisten lemah, BoJ kemungkinan menunda langkah kebijakan berikutnya, yang pada akhirnya menopang pergerakan USD/JPY lebih tinggi. Namun dinamika global dan faktor geopolitik tetap menjadi variabel penting yang bisa mengubah jalur ini.
Pada akhirnya, pembaca disarankan menyusun rencana perdagangan dengan fokus pada level kunci 152.00 dan 150.60 MA sebagai batas risiko. Rencana ini mencakup pembukaan posisi di sekitar 153.00, dengan target profit 155.25 dan stop loss 151.50 untuk memenuhi rasio risiko-imbangan minimal 1:1.5. Dengan manajemen risiko yang tepat, posisi long USD/JPY berpeluang memberikan keuntungan jika kondisi fundamental dan teknikal tetap mendukung.