Harga WTI mendekati USD61,00 di sesi Asia, menandai adanya pembatasan pada tren kenaikan. Data terbaru menunjukkan peningkatan stok minyak mentah AS lebih besar dari ekspektasi, menandai permintaan yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini menambah kekhawatiran terkait kelebihan pasokan di pasar global dan menciptakan tekanan pada harga.
Stok minyak mentah AS minggu lalu naik lebih besar dari estimasi, memperpanjang kekhawatiran kelebihan pasokan. Laporan mingguan EIA menunjukkan kenaikan 3,602 juta barel, dibandingkan dengan 3,391 juta barel pada minggu sebelumnya. Hal ini meningkatkan tekanan penjualan jangka pendek jika permintaan tidak bertumbuh secara signifikan.
Di sisi lain, risiko geopolitik yang berkembang di Iran membatasi penurunan harga WTI meski data stok membebani pasar. Peringatan dari pejabat AS mengenai sanksi terhadap kapal yang membawa minyak Iran menambah risiko politic, sementara langkah militer di Timur Tengah menambah ketidakpastian. Analis menilai bahwa dinamika ini bisa menjadi penahan downside sekaligus risiko bagi tren harga di minggu-minggu mendatang.
Rilis data API minggu ini juga menjadi faktor penggerak penting bagi pergerakan harga minyak. API sering menjadi sinyal antisipasi ketika data EIA belum tersedia, dan volatilitas dapat meningkat pasca rilis. Para pelaku pasar menilai kombinasi kedua laporan untuk menetapkan ekspektasi harga ke depan.
Kenaikan stok yang lebih besar dari harapan biasanya menandakan permintaan lemah atau kelebihan pasokan, yang cenderung menekan harga lebih lanjut. Sebaliknya jika API menunjukkan penurunan stok yang lebih besar dari ekspektasi, harga bisa terdorong lebih tinggi. Pasar tetap rentan terhadap revisi angka dan kejutan data dari kedua institusi tersebut.
Analisis pasar menekankan bahwa perbandingan antara data API dan EIA akan menentukan arah jangka pendek. Investor juga memperhatikan peluang perdagangan yang muncul dari perbedaan data dan reaksi pasar terhadap kejutan tersebut. Secara keseluruhan, stok minyak mentah tetap menjadi faktor kunci yang membentuk sentimen pasar minyak mentah selama beberapa minggu ke depan.
Ketegangan di Iran dan dinamika Timur Tengah tetap menjadi risiko utama bagi minyak mentah. Sanksi baru terhadap kapal yang membawa minyak Iran berpotensi mengganggu aliran pasokan dan memberi dukungan bagi harga. Kisah geopolitik ini menambah premi risiko bagi trader yang memantau pasar energi global.
Kebijakan AS terhadap Iran dan kehadiran kapal perang di perairan strategis meningkatkan volatilitas pasar minyak. Pelaku pasar menimbang potensi gangguan pasokan dengan peluang pemulihan permintaan global yang masih bergantung pada faktor ekonomi. Meskipun geopolitik memberi dorongan harga di waktu tertentu, pasar juga perlu melihat keseimbangan pasokan global dan indikator permintaan untuk menetapkan arah jangka pendek.
Outlook jangka pendek menekankan pentingnya data stok mingguan dari API dan EIA untuk membentuk arah pergerakan minyak. Trader disarankan memantau rilis data dan komentar kebijakan untuk menilai peluang trading. Namun dinamika geopolitik tetap tidak pasti sehingga sinyal jelas masih sulit dipastikan dan risiko tetap tinggi.