WTI berada di sekitar $59.65 pada pembukaan sesi Asia hari ini, mengindikasikan konsolidasi antara target harga psikologis dan fluktuasi teknikal. Paralel dengan itu, penangguhan produksi di ladang Tengiz dan Korolev di Kazakhstan menjadi pendorong utama yang mendukung pergerakan harga. Pasokan yang lebih rendah dari produsen besar menambah tekanan pada pasar minyak mentah global.
Menurut laporan industri, penghentian sementara di Tengiz dan Korolev berlangsung selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan. Sementara itu, Kazakhstan juga memangkas produksi minyak mentah sekitar 900.000 bph yang mengalir ke terminal Caspian Pipeline di Laut Hitam karena serangan drone. Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan dan mendongkrak harga WTI lebih lanjut.
Ajay Parmar, Direktur Energi ICIS, menilai gangguan ini bersifat sementara, namun tetap berisiko membatasi sentimen harga jika pernyataan tarif semakin keras. Ia menambahkan bahwa realisasi tarif bisa menjadi penghalang bagi kenaikan harga minyak dalam jangka menengah, meski dampak jangka pendek cenderung mendukung bullishness WTI.
Di sisi geopolitik, AS menantang beberapa negara Eropa terkait rencana penguasaan Greenland, dengan potensi tarif 25% jika kesepakatan tidak dicapai sebelum 1 Juni. Langkah ini menambah ketidakpastian perdagangan global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan minyak di masa depan.
Rencana tarif dan potensi konflik perdagangan berpotensi membebani sentimen pasar minyak global meski saat ini faktor pasokan memberikan dukungan teknis. Pelaku pasar menimbang risiko pemulihan permintaan terhadap dampak negatif kebijakan proteksionis dan gejolak nilai tukar. Perkembangan ini bisa menjadi pembatas bagi reli WTI jika eskalasi perdagangan meningkat.
Seiring para pedagang menantikan rilis laporan stok minyak mentah API, dinamika antara produksi Kazakhstan dan kebijakan tarif bisa menciptakan volatilitas jangka pendek. Investor diminta memonitor konstelasi berita perdagangan dan laporan fiskal/aktual kebijakan yang berpotensi memunculkan pergeseran besar pada harga minyak.
Berdasarkan konteks pasokan yang terganggu dan potensi risiko perdagangan, sinyal yang layak adalah posisi beli (buy) pada WTI. Katalis utama adalah gangguan produksi di Kazakhstan dan Tengiz yang dapat mengurangi pasokan global dalam beberapa hari ke depan. Namun, sentiment perdagangan masih bisa berubah jika kebijakan tarif semakin tegas atau ada berita ekonomi lain yang mengejutkan.
Rencana entry bisa dilakukan di sekitar harga saat ini atau sedikit lebih tinggi, dengan target keuntungan di atas level $63 per barel dan stop loss sekitar $58. Dengan tingkat risiko yang relatif terkontrol, rasio risk/reward mencapai lebih dari 1:1.5 jika target terpenuhi.
Pastikan manajemen risiko tetap ketat dan hindari ekspektasi terlalu optimis ketika rilis data API atau berita geopolitik baru muncul. Strategi ini cocok untuk trader yang toleransi risiko sedang dan fokus pada momentum jangka pendek terhadap faktor pasokan.