Harga minyak WTI naik berlanjut pada perdagangan Asia setelah Kazakhstan menghentikan produksi di ladang Tengiz dan Korolev karena masalah distribusi listrik. Langkah ini menambah kekhawatiran pasokan di tengah kapasitas produksi yang sedang dipertahankan. Harga minyak berkisar di sekitar 59,80 dolar per barel, mencerminkan respons pasar terhadap gangguan operasional tersebut.
Menurut tiga sumber industri yang dikutip Reuters, produksi di kedua ladang tersebut bisa tetap offline selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan. Ketika pasokan utama berkurang, tekanan terhadap harga bisa meningkat, meski beberapa juru murah mencoba mengimbangi dengan cadangan internal. Para trader juga mencermati apakah gangguan ini akan bergaung melalui pasar energi global selama periode penundaan.
Kondisi harga minyak juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang sedang berkembang. Presiden AS mengulangi ambisinya terkait Greenland dan mengulang ancaman tarif terhadap delapan negara UE, yang menimbulkan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak global. Sinyal pasar menandakan ketidakpastian lebih lanjut meski ada dukungan terhadap pasokan yang lebih terbatas.
Ketegangan geopolitik meningkat ketika Presiden Amerika Serikat kembali menyoalkan Greenland, yang berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi. Pasar minyak merespons dengan meningkatkan premi risiko pada harga jangka pendek. Meski itu, beberapa faktor fundamental tetap mendukung harga jika gangguan pasokan berlanjut.
Uni Eropa memperlihatkan dinamika perdagangan yang berisiko tinggi dengan rencana bea masuk terkait barang AS senilai sekitar 93 miliar dolar. Prancis dilaporkan mendorong instrumen anti koersi blok untuk memperkuat posisi negosiasi ekonominya. Sementara Denmark mempertimbangkan langkah untuk menarik aliran investasi dari aset AS, yang menambah ketidakpastian bagi arus perdagangan dan permintaan minyak.
Pasar menilai bagaimana kebijakan perdagangan dan potensi sanksi tambahan akan mempengaruhi permintaan minyak di masa mendatang. Ketidakpastian mengenai kebijakan ekonomi besar dapat mendorong volatilitas, terutama untuk segmen transportasi dan industri yang menjadi pemicu utama konsumsi minyak. Investor menanti pergerakan lebih lanjut dari kebijakan tersebut untuk menilai arah harga minyak.
Di sisi data pasar, data EIA menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan meningkat minggu lalu. Sementara stok distilat diperkirakan menurun, hal ini menambah campuran sinyal antara kekuatan supply dan permintaan. Pasar mencoba menimbang bagaimana rilis data tersebut akan membentuk arah harga dalam beberapa sesi berikutnya.
Penguatan harga juga diwarnai dengan kekhawatiran akan sanksi Venezuela dan upaya penegakan sanksi lebih lanjut yang dapat menghambat aliran minyak. Meskipun beberapa faktor permintaan global berpotensi melambat, gangguan pasokan lokal memberikan dukungan bertahap pada harga jangka pendek. Pelaku pasar terus mengawasi perkembangan kebijakan dan data produksi terkait.
Sinyal perdagangan berdasarkan isi artikel ini adalah buy. Harga dibuka sekitar 59,80 dolar per barel, dengan target profit di 63,00 dan stop loss di 58,00. Rasio risiko terhadap imbalan memenuhi syarat minimal 1:1,5; investor disarankan memantau pergerakan harga dan data EIA berikutnya untuk konfirmasi arah tren.