Nilai tukar Rupiah merosot ke kisaran 16.740–16.750 per dolar AS pada perdagangan siang hari, mencerminkan pasar yang menimbang data domestik yang beragam. Meski beberapa indikator menunjukkan perbaikan permintaan dalam negeri, tekanan dari faktor eksternal dan kinerja perdagangan luar negeri tetap membatasi ruang bagi Rupiah untuk menguat. Penguatan dolar juga mendorong sentimen defensif di pasar, sehingga peluang Rupiah rebound menjadi terbatas pada jangka pendek.
Dari sisi perdagangan luar negeri, surplus neraca dagang November tetap bertahan di US$2,66 miliar meski berada di bawah ekspektasi pasar. Tekanan utama datang dari ekspor yang terkontraksi 6,6% secara YoY karena melorotnya pengiriman komoditas utama seperti batu bara, minyak kelapa sawit, logam nikel, dan tembaga. Sementara itu, impor tumbuh tipis 0,46%, mengindikasikan aktivitas domestik mulai pulih meski bantalan eksternal menyempit, sehingga investor tetap berhati-hati mengenai prospek Rupiah.
Di sisi harga, inflasi Desember naik menjadi 2,92% secara YoY dan 0,64% MoM, melampaui konsensus. Kenaikan harga menandai permintaan musiman akhir tahun yang memburu harga lebih tinggi. Namun, inflasi inti yang stabil di 2,38% menunjukkan tekanan harga struktural masih terkendali, sehingga belum ada sinyal untuk perubahan kebijakan moneter secara agresif. Sementara itu, pelemahan PMI manufaktur ke level 51,2 dan perlambatan kunjungan wisatawan menambah nuansa kehati-hatian pasar.
Di ranah eksternal, DXY menguat tipis menjelang pembukaan sesi Eropa, menandai fokus pasar pada aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Penguatan dolar secara bertahap membatasi ruang gerak mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, meski volatilitas belum menunjukkan lonjakan yang signifikan. Pasar juga menimbang risiko geopolitik yang tetap membara dan memicu sikap defensif di kalangan investor.
Ketidakpastian geopolitik memperberat aliran modal ke aset safe haven, sementara dinamika global menambah beban pada sentimen risiko. Operasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan pernyataan mengenai alih kendali negara tersebut menambah risiko politik yang mengaburkan prospek mata uang regional. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina, eskalasi di Iran, serta konflik Gaza turut memperkuat nada kehati-hatian di pasar global.
Seiring dengan itu, mata trader menanti data PMI ISM AS Desember sebagai penentu arah sentimen berikutnya. Konsensus menunjukkan PMI di 48,3, sedikit di atas capaian sebelumnya 48,2, sementara komponen seperti harga dibayar diperkirakan naik ke 59 dan indeks ketenagakerjaan tetap berada di zona kontraksi sekitar 44. Rilis ini diharapkan memicu volatilitas lebih lanjut pada dolar dan pasangan mata uang terkait, sehingga trader disarankan mengikuti arah data dengan cermat.