USD/JPY kembali menunjukkan daya tarik setelah ekspektasi stimulus Jepang menguatkan isu fiskal. IMF memperingatkan bahwa mengurangi konsumsi pajak bisa mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko utang. Pembicaraan mengenai respons BoJ terhadap tekanan fiskal dan langkah fiskal pemerintah menambah fokus pasar pada arah pair. Menurut Cetro Trading Insight, langkah fiskal yang lebih besar dapat memerkuat yen jika diiringi komitmen untuk menahan lonjakan utang.
Harapan bahwa BoJ akan mempertahankan jalur pengetatan kebijakan bisa membatasi kerugian JPY dan membatasi kenaikan harga spot. Data manufaktur dan ekspor Jepang yang positif pada bulan-bulan sebelumnya menunjukkan bahwa paket stimulus bisa menambah daya dorong bagi perekonomian. Sementara itu, kemenangan PM Takaichi memberi sinyal bahwa dukungan fiskal bisa meningkat, meski risiko fiskal dan utang tetap menjadi perhatian pasar. Nada kebijakan ini membantu menjaga jarak antara yen dan aset safe-haven lainnya.
Di sisi harga, USD/JPY bergerak di atas level 153.00 dalam sesi Asia, namun masih berada di bawah tertinggi mingguan. Pasar menantikan petunjuk nyata dari Minutes FOMC untuk arah selanjutnya. Data perdagangan Jepang menunjukkan ekspor tumbuh 16,8% YoY pada Januari, menambah tekanan pada yen. Hal-hal ini membuat penurunan lebih lanjut bagi yen tetap terbatas meski sentimen risiko mendukung dolar.
Dovish ekspektasi terhadap Federal Reserve cenderung menahan gelombang bullish pada USD. Pasar menantikan Minutes FOMC untuk mengurai rencana pemangkasan biaya pinjaman beberapa kali tahun ini. Gambaran kebijakan moneter AS yang lebih lunak membantu menyeimbangkan dinamika risiko, meskipun ketidakpastian tetap ada.
Investors juga memperkirakan bahwa biaya pinjaman di AS bisa turun secara bertahap, memberi tekanan pada USD terhadap beberapa pasangan utama. Pasar akan memantau data PCE Price Index dan laporan pekerjaan untuk menilai jalur penurunan suku bunga. Skenario ini membuat USD relatif tertekan jika data menunjukkan kemajuan inflasi yang lebih lemah dari perkiraan dan menegaskan sikap dovish.
Ketika risiko geopolitik mereda dan tanda-tanda kemajuan negosiasi global muncul, rasa risk-on bisa mengurangi permintaan terhadap USD sebagai aset safe-haven. Namun, pasar tetap waspada terhadap ketidakpastian fiskal AS dan dinamika kebijakan fiskal di negara adikuasa tersebut. Secara umum, USD/JPY diposisikan sensitif terhadap rilis data ekonomi dan kata-kata pejabat bank sentral, sehingga arah jangka pendek lebih ditentukan oleh laporan makro daripada pola teknikal yang jelas.
Investasi pada Yen tetap bergantung pada kebijakan BoJ dan respons fiskal pemerintah, terutama jika PM Takaichi menunjukkan komitmen terhadap kebijakan fiskal yang bertanggung jawab. Ada peluang BoJ untuk menjaga jalur normalisasi meskipun tekanan fiskal meningkat, sehingga potensi pelemahan lanjutan bisa dibatasi. Pergerakan ini bisa menghasilkan ruang bagi USD/JPY untuk berfluktuasi di sekitar level saat ini.
Data ekspor Jepang yang kembali naik menambah sinyal positif terhadap fondasi ekonomi, yang pada gilirannya dapat mengurangi tekanan terhadap yen. Meskipun demikian, faktor global seperti keputusan Fed tetap menjadi penentu arah jangka pendek. Pelaku pasar sebaiknya mengawasi rilis Minutes FOMC dan PCE Price Index karena akan ada petunjuk jelas tentang jalur kebijakan di masa mendatang.
Tanpa adanya sinyal teknikal yang jelas, sinyal trading untuk USD/JPY cenderung bergantung pada faktor fundamental. Risiko-imbangan (risk-reward) untuk opsi yang relevan bisa mengarah ke rencana dengan target keuntungan yang lebih tinggi bila konfirmasi arah muncul. Karena data ekonomi dan pernyataan kebijakan bisa mengubah arah secara cepat, manajemen risiko tetap menjadi bagian penting dari strategi trading.