Menurut analis OCBC Sim Moh Siong dan Christopher Wong, USD/SGD tengah menunjukkan pemulihan dari penurunan sebelumnya yang dipicu berita tarif AS. Sentimen risiko global cenderung menurun, dan ekspektasi untuk pengetatan kebijakan MAS pada bulan April turun, sehingga SGD tertekan. Para pelaku pasar memantau pergeseran likuiditas dan arah pasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Data inflasi utama Singapura menunjukkan angka 1.4% YoY sesuai ekspektasi, tetapi inflasi inti meleset turun menjadi 1.0% YoY. Perubahan ini memperkuat pandangan bahwa MAS kemungkinan mempertahankan kebijakannya di April dan akan menilai data inflasi berikutnya dengan saksama. Analisis OCBC menekankan bahwa meskipun angka utama sesuai prediksi, penurunan inflasi inti membawa dinamika kebijakan menjadi lebih hati-hati.
Penurunan inflasi inti juga mendukung potensi pemulihan bagi pasangan USD/SGD jika risiko pasar membaik. Artikel OCBC mencatat bahwa pergerakan USD/SGD sebelumnya menunjukkan tanda-tanda unwinding dari penurunan akibat berita tarif. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika pasar dan implikasinya bagi strategi investasi.
Di sisi teknikal, USD/SGD telah bergerak lebih tinggi setelah pergerakan awal karena berita tarif AS. Pasangan ini dibayangi oleh sentimen risiko yang lesu dan penurunan ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan MAS pada bulan April, sehingga SGD tertekan. Pelaku pasar mengamati pergeseran likuiditas dan arah pasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Inflasi inti Singapura menjadi faktor kunci dalam dinamika ini. Meskipun CPI utama sesuai ekspektasi, penurunan inflasi inti ke 1.0% YoY menambah ketidakpastian terhadap jalur kebijakan MAS. Investor menilai apakah April akan menjadi momen penundaan lebih lanjut atau akankah ada penyesuaian jika data inflasi menambah tekanan harga.
OCBC menegaskan bahwa ekspektasi MAS untuk menahan kebijakan tetap relevan, sambil memantau rilis inflasi berikutnya. Data inflasi yang lebih lemah pada inti dianggap sebagai faktor pendukung bagi SGD untuk tetap lemah terhadap tekanan eksternal. Pada akhirnya, dinamika ini menandakan bahwa risiko volatilitas bisa meningkat jika data ekonomi global berubah arah.
Dengan gambaran kebijakan yang tidak berubah dalam waktu dekat, pelaku pasar cenderung fokus pada pergeseran data inflasi dan risiko global. Ketika MAS menahan suku bunga, bias kebijakan menjadi lebih netral dan USD/SGD bisa tetap bergantung pada sentimen risiko. Oleh karena itu, para trader mempertahankan pendekatan berhati-hati sambil memantau rilis data ekonomi berikutnya.
Untuk trader, fokus utama adalah dinamika inflasi, pernyataan MAS, serta pergerakan harga minyak/komoditas dan volatilitas pasar. Karena sinyal yang tersedia bersifat lebih fundamental, rekomendasi teknikal yang konkret memerlukan harga pasar aktual dan timeframe yang jelas. Dalam konteks ini, pendekatan manajemen risiko menjadi kunci.
Kesimpulannya, jika kondisi ekonomi global tetap mendukung harga risiko rendah dan MAS mempertahankan sikap dovish, USD/SGD bisa berpotensi menguat dalam jangka pendek hingga menengah. Namun volatilitas bisa muncul jika data inflasi berikutnya menyajikan kejutan positif bagi SGD. Investor perlu siap dengan skenario keluar.