Data PDB Romania lebih lemah dari ekspektasi dan mencatat kontraksi tajam di kuartal keempat 2025. Kondisi ini menambah risiko penurunan proyeksi inflasi dan menimbulkan pertanyaan bagaimana kebijakan moneter akan merespons. Para analis menilai bahwa pelemahan aktivitas bisa memperlambat pemulihan harga dan menambah ketidakpastian jalur inflasi ke depan.
Guncangan tersebut memperkuat tekanan pada kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan antara menahan inflasi dan mendukung pertumbuhan. Dalam skenario yang sedang dilihat, Bank Nasional Romania bisa mempertimbangkan pelonggaran lebih awal agar permintaan domestik tetap bergerak meskipun moderat.
Kondisi ini juga menimbulkan dampak bagi pasar keuangan, seperti volatilitas pada mata uang leu dan pergerakan imbal hasil obligasi, seiring investor menilai sinyal kebijakan yang lebih longgar di masa depan.
Analis menyatakan peluang pelonggaran pertama muncul pada Mei 2026, dengan total pengurangan suku bunga sekitar 100 basis poin sepanjang tahun itu.
Front-loading bisa terjadi jika laju inflasi menahan diri atau turun lebih rendah dari proyeksi, namun pemerintah menghadapi tekanan untuk menjaga tempo konsolidasi fiskal mengingat perlambatan pertumbuhan.
Jalur kebijakan moneter akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi domestik, dan dinamika fiskal yang lebih luas.
Pertumbuhan yang lebih lemah bisa mengurangi penerimaan fiskal dan memperlambat agenda konsolidasi fiskal, sehingga menambah beban bagi kebijakan publik.
Dari sisi pasar, ekspektasi pelonggaran 2026 berpotensi mempengaruhi imbal hasil obligasi jangka menengah dan nilai tukar RON/USD, tergantung bagaimana data inflasi dan aktivitas ekonomi berkembang.
Investor perlu tetap waspada terhadap kejutan data, karena inflasi yang tidak turun seperti yang diharapkan atau pertumbuhan yang lebih kuat dapat mengubah jadwal pemangkasan dan menambah volatilitas pasar.