Analisis dari Rabobank yang diungkap oleh Philip Marey menilai nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Fed berpotensi memicu pemangkasan suku bunga acuan AS pada 2026. Marey memperkirakan tiga potongan 25 basis poin masing-masing, sedikit di bawah estimasi level netral yang digunakan sebagian besar peserta FOMC. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi pelonggaran kebijakan yang bisa mengubah lanskap suku bunga dan likuiditas.
Marey menyoroti pergeseran Warsh dari sikap hawkish terhadap inflasi menjadi lebih dovish, serta klaim bahwa nilai netral dapat ditentukan melalui pendekatan berbasis AI. Ia juga menilai rencana untuk memangkas neraca Fed dan mengurangi cadangan yang berlebih sebagai unsur kunci dalam dinamika kebijakan ke depan. Struktur kebijakan seperti ini menambah dimensi baru pada diskusi tentang bagaimana ketergantungan pada neraca dan likuiditas bisa membentuk jalur suku bunga.
Meskipun Warsh bukan pilihan yang paling dovish, ia diperkirakan tetap mendorong pelonggaran melalui pemotongan bertahap dan potensi QT. Ada kemungkinan ia membujuk anggota FOMC lain untuk menurunkan proyeksi netral berdasarkan argumen AI, sehingga jalur kebijakan bisa lebih akomodatif jika data mengizinkan. Analisis ini dirangkum untuk pembaca oleh Cetro Trading Insight.
Prediksi pemangkasan juga membawa implikasi bagi pasar dan likuiditas, termasuk sektor properti yang masih rentan. Warsh menilai langkah pelonggaran dapat membantu mengangkat kondisi permintaan dan menahan tekanan pada harga rumah, meskipun respons jangka panjang pada imbal hasil bisa beragam. Secara umum, kebijakan pelonggaran diyakini akan menambah arus modal menuju aset berisiko.
Argumen tentang netral yang diturunkan melalui AI bisa memicu penyesuaian proyeksi FOMC, dengan fokus pada bagaimana tingkat netral yang lebih rendah mengubah ekspektasi jalur kebijakan. Banyak analis menduga bahwa penurunan netral ini akan menekan peluang kenaikan suku bunga di masa depan dan memperlambat pengetatan. Perubahan semacam ini berpotensi mengubah harga obligasi, saham, dan aset berisiko lainnya di pasar.
Terlepas dari nuansa dovish, Warsh diperkirakan tidak akan meluncurkan kebijakan secara agresif; fokusnya adalah pelonggaran bertahap yang diselaraskan dengan data ekonomi. QT serta pengurangan cadangan tetap menjadi bagian dari dialektik kebijakan, sehingga dampaknya pada pasar akan tergantung pada bagaimana data inflasi, pertumbuhan, dan pasar tenaga kerja berkembang. Laporan ini disajikan oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika kebijakan.
Bagi investor, narasi pelonggaran kebijakan berpotensi menarik modal ke pasar saham dan beberapa segmen obligasi berisiko lebih rendah jika jalur pemangkasan terealisasi. Sentimen pelonggaran cenderung memberi stimulan pada drama pasar global dan dapat menjaga kompetisi likuiditas. Namun, respons pasar bisa bervariasi tergantung pada data ekonomi dan ekspektasi pelaku pasar.
Di sisi lain, risiko QT yang berkelanjutan dan pengetatan likuiditas bisa menambah tekanan pada volatilitas keuangan dan menantang strategi alokasi aset jangka menengah. Investor perlu menimbang risiko imbal hasil jangka panjang terhadap biaya pinjaman dan kinerja perusahaan, sembari memperhatikan perubahan suku bunga jangka menengah.
Secara ringkas, catatan dari Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memantau pernyataan Fed, menggabungkan analisis fundamental dan teknikal, serta menjaga diversifikasi portofolio. Langkah tersebut membantu menghadapi potensi volatilitas dan perubahan jalur suku bunga di masa depan. Menurut Cetro Trading Insight, investor disarankan memantau perkembangan kebijakan Fed, menggabungkan analisis fundamental dan teknikal, serta menjaga diversifikasi portofolio.