Inflasi inti yang diukur melalui Personal Consumption Expenditures PCE meningkat menjadi 2,8% secara tahunan pada November, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Data ini juga menunjukkan kenaikan bulanan sebesar 0,2% yang sesuai dengan ekspektasi pasar. PCE inti, ukuran inflasi yang menjadi fokus kebijakan The Fed, tetap berada pada jalur yang diantisipasi meski angka tahunan sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Detail tambahan menunjukkan Pendapatan Pribadi meningkat 0,3% secara bulanan, sementara Pengeluaran Pribadi meningkat 0,5%. Kenaikan ini menandakan tingkat daya beli rumah tangga masih relatif kuat meski beban biaya hidup meningkat. Angka-angka ini memberi nuansa bagi evaluasi kebijakan moneter mendatang dan prospek permintaan domestik.
Reaksi pasar terhadap data ini terlihat sebagai tekanan moderat pada Indeks USD. Dolar tertekan sekitar 0,25% dalam sesi tersebut dan mendekati level 98,5, sejalan dengan narasi bahwa inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat menunda langkah agresif dari bank sentral. Pelaku pasar juga menilai risiko terhadap likuiditas jangka pendek menjelang data berikutnya.
Publikasi inflasi PCE memperkuat gambaran bahwa inflasi inti tetap terkendali meski ada variasi bulanan. Pasar mata uang cenderung menafsirkan data ini sebagai sinyal bahwa The Fed akan menjaga kebijakan secara hati-hati tanpa kepastian cepat mengubah pelonggaran atau kenaikan suku bunga. Arus investasi terlihat beralih ke aset yang menawarkan perlindungan atau imbal hasil lebih stabil.
Di sisi lain, pergerakan Indeks USD yang melemah menambah dinamika di pasar valuta asing utama, dengan beberapa pasangan mata uang berpotensi merespons secara lebih volatil. Reaksi pasar cenderung moderat karena investor menunggu konfirmasi lebih lanjut dari data inflasi berikutnya dan komentar pejabat Fed. Implikasi teknikal menambah akumulasi posisi jangka pendek bagi trader yang mengikuti arah dolar.
Seiring waktu, pelemahan dolar dapat meningkatkan peluang pada aset berisiko serta komoditas yang sensitif terhadap pergerakan dolar. Investor sebaiknya mengelola risiko dengan meninjau level teknikal kunci, likuiditas, dan volatilitas sepanjang minggu depan. Keputusan kebijakan bank sentral serta risiko geopolitik dapat mengubah narasi meski tren saat ini cenderung menekan dolar.
Menimbang sinyal melemahnya dolar, satu skenario trading adalah posisi jual pada indeks dolar dengan rencana risiko yang jelas. Berdasarkan data saat ini, open sekitar 98,55 dapat diikuti target di sekitar 97,05. Stop loss bisa diatur pada 99,55 untuk menjaga rasio risiko sekitar 1:1,5.
Strategi ini menekankan keseimbangan antara peluang profit dan perlindungan modal. Pergerakan turun berlanjut akan mengarah pada ekspansi TP, sementara pergerakan berbalik ke level resistance bisa mengaktifkan SL. Trader perlu menyesuaikan ukuran posisi dengan volatilitas pasar dan jadwal rilis data ekonomi utama.
Dalam konteks risiko, data inflasi PCE memperluas argumen untuk memantau arah kebijakan The Fed. Meskipun potensi teknikal pada DXY menjanjikan, analisis lebih lanjut terhadap pekerjaan, inflasi inti, dan tekanan biaya akan membentuk panduan perdagangan dalam beberapa minggu ke depan.